To Be

…whatever you want to be.

Judul yang jadi jawaban saya untuk pertanyaan keponakan yang berusia 7 tahun: Apakah untuk jadi juru masak wajib lulus sekolah masak?

Kira-kira sebulan lalu saya sempat baca dua jenis iklan lowongan kerja yang kurang lebih berisi seperti ini:

I. Vacancy: Programming Manager — minimal pengalaman 5 tahun, pendidikan minimal S2, menguasai bahasa pemrograman, dan seterusnya.

II. Vacancy: Programming Manager — Just send us your CV.

Copywriting lowongan kedua di mata saya jauh lebih menarik karena tidak tersegmentasi pada kualifikasi tertentu, serta membiarkan pelamar kerja yang tertarik untuk menulis pengalaman seluas-luasnya sebagai referensi kelayakan.

Saya percaya, inilah jenis lowongan kerja yang akan marak di masa depan.

Contoh lain, seorang teman yang berlatarbelakang pendidikan akuntansi ternyata lebih luwes menggambar. Karyanya sangat detil dan artistik sampai-sampai sekarang lebih sukses sebagai artis/content creator ketimbang akuntan. Beberapa brand besar mempercayakan konten iklan kepada dia.

Apakah itu berarti lima tahun masa pendidikannya sia-sia? Dari sudut pandang saya tidak. Teman saya tadi sudah melakukan investasi pendidikan yang bantu mematangkan profesi (apapun) yang dipilih belakangan. Ilmu akuntansinya tetap berguna, walau kemampuan melukisnya jadi sumber penghasilan utama.

Demikian juga sebaliknya, apabila keponakan saya ingin menjadi juru masak alias chef, dia perlu mulai menggali pengalaman dalam bidang makanan sejak dini. Lebih awal, lebih baik. Soal perlu atau tidak tambahan pendidikan formal, nanti demand yang ikut menentukan.

Sebab pada akhirnya demand alias konsumen penikmat karya akan tetap menjadi hakim bagi kualitas kemampuan seseorang. Bukan panjangnya gelar.

Pendapat ini tidak berarti legitimasi profesi atau pendidikan formal tidak diperlukan. Justru sangat penting sebagai acuan teknik yang benar. Hanya saja, menurut saya, bukan syarat satu-satunya.

Kebebasan bergerak dan berkarya di era digital membuka akses pada siapapun untuk pamer kemampuan sambil terus belajar, tanpa batas ruang.

Sehingga pada siapapun yang mengatakan bahwa kamu tidak bisa berprofesi A atau B atau C sebelum punya bekal pendidikan yang resmi, jawab saja, “Oh tentu saya bisa.”

🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *