Percakapan Hujan

Hujan sudah reda setengah jam lalu. Teras kafe masih dipenuhi payung pengunjung.

Di atas meja dekat kebun masih tersisa sepotong croissant. Dua pasang mata di dekatnya sama-sama menerawang ke luar.

“Are you sure about this? I mean, you do realise that there’s no turning back from this whole scenario, right?”, tanya ulang Katya sambil meremas tisu yang tak lagi berbentuk segitiga.

“Yes, I’m aware of that.”, jawab Dimas mantap, sambil kembali mengaduk long black.

Katya kembali terdiam semenit.

“Hhh.. baiklah. Sampai kapanpun aku akan menyalahkan diriku jika keputusanmu ini tidak berjalan sesuai rencana. Tapi, ya sudah, come what may.”

“Come what may, baby.”

Katya menaruh selembar uang seratus ribuan di atas meja, ketika Dimas merobek tiket pesawat yang diambil dari kantong kemeja.

Sebuah koper kabin yang dari tadi jadi saksi percakapan nampaknya harus kembali pulang.

Ia tak jadi terbang. Tidak hari ini. Tidak esok pagi. Tidak tahu sampai kapan.

Mungkin sampai Dimas dapat meyakinkan Katya bahwa rencana sederhana mereka di kota kecil ini jauh lebih berharga dari apa yang dimiliki di Amsterdam.

Atau mungkin sampai Katya sadar bahwa cinta sejati memang selalu dijejali keputusan;

dan dia tak lagi harus berdiri di antara sekian pilihan.

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *