Pelita

Para musisi sudah mulai membereskan perlengkapan musik mereka, namun Andita masih terdiam di sisi kiri mimbar, memandangi salib raksasa di dinding

Joshua, pemuda tegap keturunan Ambon yang bertugas sebagai gitaris pun segera tersadar, ada seorang jemaat yang belum beranjak dari kursinya. Seseorang yang cukup dikenalnya sejak remaja.

“Andita? Hey, belum pulang?”

Yang disapa sedikit terkejut, lalu melempar senyum manis.

“Hai, Josh. Belum.” jawabnya datar seolah tak peduli dengan Joshua yang nampak penasaran.

Cowok berambut ikal itu menaruh gitarnya, lalu mengambil posisi duduk dua bangku di sebelah Andita.

Lima menit kemudian, mereka berdua masih menatap salib raksasa di mimbar.

Lalu tiba-tiba suara Andita memecah kesunyian.

“Tell me, Josh, jika menurut Alkitab kita adalah terang, mengapa kita lebih sering berkumpul di gereja ketimbang pergi menyalakan kegelapan di luar sana?”

Joshua hampir tersedak mendengar sambaran pertanyaan yang tak diduga itu.

Bukan lantaran ia tidak bisa menjawab, namun karena tahu Andita tidak benar-benar bermaksud bertanya. Ia hanya menyampaikan isi hatinya.

Beberapa saat setelah berpikir, Joshua pilih tak menjawab.

Sambil berdiri satu lengannya terulur merangkul pundak Andita. Lalu ia berbisik, “Pergilah, jadikan semua bangsa muridNya.”

Andita merangkul balik sambil tersenyum.

Seiring Joshua berpamitan pulang, Andita pun meraih tas ransel di bawah kursi nampak sudah menanti dibawa sedari tadi.

Langkahnya kini lebih ringan. Sebuah pulau di ujung Indonesia telah menunggu kehadirannya.

Andita tahu, sekarang gilirannya yang memberi harapan.

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *