Pagi Jam Tiga

Embun subuh pecah dibakar matahari. Sepotong mimpi luntur menjelang pagi.

Dan semburat sambat rindu ini masih tak bertepi.

Ku gurat senyum di meja kayu, yang dulu sempat jadi alas kerjamu. Berkali-kali ku ciumi, tetap tak bernyawa senyum itu.

Seperti pilu yang mengecap gula di telaga. Mungkin ini terakhir kali ku tuang kopi di gelas kedua.

Sambil berpura-pura kita masih ada.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *