Menunda Menulis

Saya tidak pernah sadar bahwa menunda menulis ternyata menyakitkan — sampai ketika saya sakit.

Mengabaikan insting menulis dengan alasan apapun — tidak merasa cukup waktu, cukup ide, atau cukup yang lain — ternyata menimbun emosi yang berdampak tidak baik bagi tubuh.

Saya yang sejak kecil rajin menulis ringan, bahkan tujuh tahun lalu sudah membuat draft tulisan yang hendak diterbitkan, belakangan pilih menghindar dan lebih suka membantu urusan strategi beberapa klien. Termasuk dalam menulis buku.

Pelarian yang ironis.

Hari demi hari hasrat menulis saya lupakan. Saya geser dengan obrolan pendek, langsung maupun tidak langsung di media sosial, dengan alasan lebih praktis dan mudah dilakukan. Tanpa paham bahwa desakan batin yang saya alami semakin mirip cinta sejati yang sulit digantikan.

Ada timbunan emosi yang mendesak dilahirkan dalam wujud kata. Ada rangkaian nalar yang butuh disambut dengan bahagia.

Bahagia. Iya, bahagia ketika ditengah riuh rendah perdebatan politik ternyata jiwa masih bisa bicara. Bahagia ketika batin terasa lega setelah berkata.

Maka saya pun tersadar; bukan tulisan yang memerlukan saya, melainkan sebaliknya.

Menulis itu menyembuhkan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *