Melanjutkan Perjalanan

Berpisah dengan tahun 2016 kemarin malam sedikit menyisakan residu emosi bagi saya. Berikut catatan kecilnya.

Sepulang dari jalan, menjelang pukul 00.00 WIB saya dan suami memutuskan kembali ke rumah demi menikmati kembang api dari kamar tidur kami yang kebetulan berjendela tinggi, tepat mengarah ke tengah Jakarta.

2016 bisa dibilang salah satu tahun monumental yang pernah saya alami. Perjalanan dari Januari ke Desember terasa seperti naik kereta cepat, yang berhenti di beberapa titik kejutan lalu melaju kembali.

Pencapaian-pencapaian yang berharga, mulai dari kesempatan bicara di forum internasional, sampai resolusi sederhana seperti sukses mengatasi trauma tenggelam dan berani mulai masuk perairan yang agak dalam di lepas pantai menjadi hal-hal sederhana yang membuat saya kenal lagi rasa bahagia yang hakiki.

Di tengah tahun, titik pemberhentian kereta 2016 diselingi peristiwa kehilangan adik ipar yang sempat menguras perasaan. Oleh karena tepat dengan rencana pernikahannya yang hendak dilangsungkan akhir tahun ini. Sebuah hentakan yang juga membuat saya belajar bahwa hidup jarang hanya punya satu rencana utama. Selalu ada beberapa cabang jalan cadangan yang harus diantisipasi.

Belum selesai rasa dukacita tadi, pada bulan Oktober sebuah vonis kanker payudara mencoba menantang keberanian saya untuk melanjutkan perjalanan. Dimana setelah menimbang secara masak, saya putuskan menolak menjalankan prosedur konvensional — seperti kemoterapi, radiasi, dan mastektomi— sebab saya meyakini bahwa ketiga prosedur ini bukanlah solusi yang tepat.

Meski dianggap mengambil keputusan gila yang ditentang oleh dokter dan keluarga, saya tetap memilih jalan yang saya yakini. Dipaksa ngebut belajar mengenai musuh terbaru yang ditakuti banyak orang ini.

Saya yang dulu percaya seratus persen ke dokter — seperti umumnya kebanyakan orang — kini jadi mengalokasikan waktu khusus mempelajari bidang yang harusnya ditempuh khusus lewat bangku kuliah.

Belum lagi eksperimen-eksperimen yang saya lakukan ke tubuh sendiri, yang saya yakini sampai sekarang menjaga stamina saya jadi lebih enerjik sekaligus melemahkan pertahanan sel kanker.

Mungkin nanti saya tulis secara terpisah khusus pengalaman ini.
All in all, sepanjang 2016 di antara sekian peristiwa saya justru merasa lebih hidup karena berani menjawab tantangan lewat faith-based actions, bukan fear-based actions.

Kembali ke malam pergantian tahun baru.

Sambil memandang pesta kembang api dari jendela, saya dan suami menikmati proses masuk detik pertama tahun 2017.

Kami mungkin tidak tahu persis tentang hari esok, tetapi kami tahu pasti hidup hanya berharga ketika kita punya fungsi dan misi di bumi.

I believe in purpose beyond pain.

Dan perjalanan harus dilanjutkan — menyelesaikan tantangan, menerima hadiah hidup, serta ujian “kenaikan kelas” yang lain lagi.

Hey, siapa takut? toh Tuhan sudah berada di masa depan. 😉

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *