Pelita

Para musisi sudah mulai membereskan perlengkapan musik mereka, namun Andita masih terdiam di sisi kiri mimbar, memandangi salib raksasa di dinding Joshua, pemuda tegap keturunan Ambon yang bertugas sebagai gitaris pun segera tersadar, ada seorang jemaat yang belum beranjak dari kursinya. Seseorang yang cukup dikenalnya sejak remaja. “Andita? Hey, belum pulang?” Yang disapa sedikit terkejut, […]

Continue Reading

Percakapan Hujan

Hujan sudah reda setengah jam lalu. Teras kafe masih dipenuhi payung pengunjung. Di atas meja dekat kebun masih tersisa sepotong croissant. Dua pasang mata di dekatnya sama-sama menerawang ke luar. “Are you sure about this? I mean, you do realise that there’s no turning back from this whole scenario, right?”, tanya ulang Katya sambil meremas […]

Continue Reading

Pagi Jam Tiga

Embun subuh pecah dibakar matahari. Sepotong mimpi luntur menjelang pagi. Dan semburat sambat rindu ini masih tak bertepi. Ku gurat senyum di meja kayu, yang dulu sempat jadi alas kerjamu. Berkali-kali ku ciumi, tetap tak bernyawa senyum itu. Seperti pilu yang mengecap gula di telaga. Mungkin ini terakhir kali ku tuang kopi di gelas kedua. […]

Continue Reading

Bangku Ruang Tunggu

Tidak sepenuhnya fiksi. Hanya nama yang diganti. 2002. Terminal 1C Soekarno-Hatta. Hhh! Sambil menghempaskan pantat yang pegal ke bangku ruang tunggu, saya melempar sekilas tatapan ramah ke gadis berambut ikal yang duduk sekitar dua meter di sebelah kanan. “Rokok?” Dia ramah menawarkan. Saya menggeleng sambil tersenyum, “No, thank you. Sudah berhenti.” “Wah, hebat! Ajarin dong, […]

Continue Reading