Agama Baru

Secara etimologi, agama atau religion berasal dari bahasa latin religio yang mengakar pada kata: re-ligare, yang berarti ‘mengikat kembali’.

Menyimak perkembangan politik tiga tahun belakangan ini, kita seolah diantar pada kenyataan bahwa ikatan-ikatan baru yang mirip agama sangatlah mudah dibentuk. Bahkan jika “diciptakan” secara strategis, dapat secara ekstrim diminati oleh pendukungnya.

Akar kata re-ligare yang harusnya dimaknai sebagai proses pengikatan antara manusia dengan Entitas Agung, kini bermutasi ke sel-sel kecil segmentasi sosial akibat konflik horisontal.

Kita sadar tingginya frekwensi konflik horisontal yang kerap terjadi di nusantara. Hampir setiap hari ada saja kabar terbarunya. Yang membuat kesimpulan seolah agama (yang resmi) sudah jadi talenan empuk bagi pisau-pisau pemecah golongan. Salah satunya, politik.

Cukup ayunkan pisau politik dengan sudut pandang X, maka talenan agama akan menyediakan bidang yang nyaman bagi sel-sel baru, golongan X1, X2, X3, dan seterusnya.

Saya tidak anti politik. Saya hanya merasa belakangan politik yang terjadi di Indonesia — dan dunia — semakin mengkhawatirkan. Riak gelombang yang sekarang terlihat ringan bisa bergulung jadi tsunami yang kelak sulit kita pulihkan dampaknya.

Bagaimana antisipasinya? Barangkali kita kembalikan dulu pada pertanyaan dasar; Apakah pisau-pisau pemecah menajam karena terasah agama? Atau talenan agama sejak awal memang terlalu empuk untuk diprovokasi?

Saya rasa kita layak berkaca sebelum tsunami tiba.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *